Menurut Sirah Nabawiyah oleh Syaikh Shafiyur Rahman al-Mubarakpuri, saat itu, sebenarnya Nabi Muhammad SAW sudah seharusnya dipulangkan kembali ke keluarganya karena masa menyusuinya telah berakhir.
Namun, Halimah mengajukan permohonan kepada ibu Nabi Muhammad SAW, Aminah, agar dia diizinkan untuk terus merawat Nabi Muhammad SAW lebih lama.
Halimah merasa bahwa keluarganya mendapatkan berkah sejak Nabi Muhammad SAW tinggal bersama mereka, dan permohonannya disetujui oleh Aminah.
Suatu hari, peristiwa besar terjadi. Nabi Muhammad SAW kecil sedang bermain dan menggembala kambing dengan anak-anak Halimah di dekat rumahnya.
Tiba-tiba, dua orang laki-laki berpakaian putih mendekatinya dan membawa Nabi Muhammad SAW ke tempat yang agak jauh dari tempatnya menggembala. Saat itu, Nabi Muhammad SAW kecil ditinggalkan sendirian ketika anak-anak Halimah pulang untuk mengambil bekal makanan.
Ketika anak-anak Halimah kembali, mereka tidak menemukan Nabi Muhammad di mana-mana, namun melihat peristiwa besar saat para malaikat membersihkan hati Nabi Muhammad SAW. Mereka berlari ke rumah untuk memberitahu Halimah dan suaminya.
Mereka bergegas mencari Nabi Muhammad dan menemukannya duduk seorang diri di dekat sebuah rusun. Halimah bertanya mengapa Nabi Muhammad SAW berada di sana seorang diri, dan Nabi Muhammad menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya.
Dua orang laki-laki berpakaian putih tersebut ternyata adalah Malaikat Jibril yang membersihkan hati Nabi Muhammad SAW. Malaikat Jibril mblh da da Nabi Muhammad SAW, mengeluarkan sesuatu dari hatinya, dan berkata bahwa itu adalah bagian setan dalam dirinya.
Hati Nabi Muhammad SAW kemudian dimasukkan ke dalam sebuah bejana emas yang diisi dengan air zamzam untuk dibersihkan, lalu para malaikat mengembalikannya ke tempatnya semula.
Peristiwa ini terjadi sekitar tiga kali dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW, dan menjadi peristiwa pertama sebelum peristiwa Isra Mi'raj dan sebelum menerima perintah shalat 5 waktu. Bekas luka akibat jahitan dapat dilihat oleh Anas RA, yang menyaksikan kondisi dada Nabi Muhammad SAW.
Berdasarkan tulisan dalam buku Al-Qalb: Kajian Saintis dalam Al-Qur'an, peristiwa pembersihan hati Nabi Muhammad SAW mengandung makna kelapangan dada, yang memungkinkan kemampuan menerima, menemukan kebenaran, hikmah, kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memaafkan kesalahan, seperti yang tercantum dalam surah Taha ayat 25 dan Az Zumar ayat 22.

